Lika-Liku Perjalanan Meminang Pantai Timang

Friday, March 02, 2018


Lagi-lagi ajakan untuk bertemu langit biru dalam iringan suara debur ombak sulit untuk kutolak. Iya, Tirta mengajakku ke pantai dalam suatu masa ketika aku sedang ada galaunya banyak rindunya.

Setelah memang tak ada daya untuk menolak, tiba-tiba rasa aras-arasen menyeruak ketika dia menyebut nama Pantai Timang. “Kenapa harus Pantai Timang Tir?” tanyaku dalam batin. Bisa-bisa muatan rindu selama dua minggu yang sengaja kuendapkan, tercecer ke mana-mana karena guncangan jalan gronjal-gronjal menuju pantainya itu.

Tak cukup di situ, rasa aras-arasen itu ditambah lagi oleh permintaan Tirta: “sebelum ke Pantai Timang, mampir dulu ke Tempat Pembuangan Akhir sampah di Piyungan ya mbak? Aku pingin motret sapi makan sampah” pintanya dalam sebuah rengekan.

Aku yang saat itu sedang konsentrasi mengumpulkan energi biar kuat menghadapi jalan gronjal-gronjal dua kilometer lebih jaraknya tiba-tiba kok dikasih kejutan lagi. Harus banget ya ngapelin sapi-sapi dulu di gunungan sampah. Demii apaa? Huhuhu. Eh tapi kok aku tetep saja bilang “iya”.

Tersekap dalam Naungan Bukit Sampah TPA Piyungan

Pagi itu perjalanan dimulai dari menyapa sapi-sapi di Tempat Pembuangan Akhir sampah, Piyungan, Bantul, dengan perut kosong. Bayangkan, di tanjakan pertama menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah itu, bau-bau aneh mulai menghantui menusuk-nusuk indra penciumanku. Mencoba tak menggubris, nanjak, nanjaaak, terus sampai nemu pertigaan. Betapa terkagetnya melihat bukit-bukit sampah yang tingginya sudah membumbung begitu. Mataku mulai agak berkaca-kaca karena silaunya matahari.

Kruwwk-kruwkk-kruuwk. Perutku sudah mulai tak enak, mual-mual rasanya. Sesekali kutahan nafas, tapi ya nggak kuat lama-lama. Tirta masih nekat membawaku naik lagi. Menyusuri jalan-jalan di pinggiran bukit sampah. Burung-burung berwarna hitam bergerombol bersama ribuan sapi.


Gubug-gubug kecil dengan nyala api dalam tungku juga menjadi penghuni dataran sampah itu. Anak kecil menunggui ibunya yang sibuk memilah sampah dalam keranjang. Truk-truk sampah datang. disambut oleh sapi-sapi yang tengah berebut makanan mengerumuni truk-truk itu. Tak jelas bagaimana kepemilikannya. Namun, aku melihat ada beberapa pemilik sapi yang mengundangnya kembali pulang dengan cara menepuk-nepuk tangan.

Sejak 1995 TPA sampah Piyungan ini menjadi tempat timbunan sampah tiga kabupaten yaitu: Yogyakarta, Sleman, dan Bantul, sampai dengan akhir tahun 2017 lalu telah dihuni sekitar 1.500 ekor sapi. Mereka menggantungkan hidup dengan memakan sampah-sampah yang disetor truk-truk pengangkut sampah itu.

Tak selang waktu lama, “Tir, ayo udah saja.” Bisikku sambil menahan lemas. Aku sudah tak tahan menghirup aroma menyengat ini, aku juga sudah tak tahan menahan mual terlalu lama.

Misi ke Pantai Timang dilanjutkan


Pilihan untuk secepatnya beranjak pergi dari TPA sampah Piyungan memang keputusan yang benar. Apesnya, selama perjalanan menuju Pantai Timang melewati Jalan Wonosari, bau-bau sampah itu terus menghantuiku.

Slayer yang aku gunakan sebagai penutup wajah seperti bau sampah, jaketku seperti mengandung bau sampah, ah pokoknya apa-apa seperti bau-baunen sampah. Huhuhu. Rasanya jadi tak minat beli sarapan, tapi kok kasihan sama perut, sudah disiksa semenjak pagi. Akhirnya kami memilih sarapan soto di Tan Proyek, sebuah warung soto di pinggiran Jalan Wonosari yang sudah ramai oleh para pesepeda.

Aku dan Tirta sebenarnya masih janjian dengan dua orang teman lagi: Mbak Crisnha dan Viki. Mereka lebih memilih menyusul kami setelahnya daripada ikut-ikutan konyol mengapeli sapi-sapi di antara bukit sampah. Mereka sengaja serta, karena mereka sekalian akan menjadi bodyguard kami dalam perjalanan nanti.


Cuaca yang semakin panas membuat perjalanan kami serasa tak sampai-sampai. Dari mulai pertigaan Siyono ke selatan, kok rasanya nggak nimbus-nembus jalan raya deretan pantai Gunungkidul.

Akhirnya penampakan papan petunjuk arah ke Pantai Timang mulai terlihat di tepi jalan. Pantai Timang berada dalam satu deretan arah menuju Pantai Siung, Pantai Nglambor dan Pantai Jogan.

Setelah kendaraan sampai di sebuah cabang jalan menuju Pantai Timang, ada rasa belum lega bergelayut. Sebuah jalan penderitaan itu akan segera menyambut. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilewati jika mau sampai pantainya.

Terakhir aku ke sini sepertinya sudah sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tapi kenapa jalannya masih belum berubah juga?

Mungkin karena di balik penderitaan pengunjung melewati jalan ini dengan samudra sabarnya, ada berpuluh warga yang menggantungkan mata pencahariannya untuk menjadi pengemudi ojek menyusuri jalan gronjal-gronjal tak karuan ini.

Penampakan jalan yang bisa merontokkan lemak-lemak sejauh dua kilometer lebih. Karena tidak sempat motret jalan ini, foto dipinjam dengan izin dari: mblusuk.com

“Mari ojeknya mbak… tiga kilometer lagi lho jalannya rusak” sapa seorang penarik ojek yang cukup mengguncang psikis. Tiga kilometer? Di jok belakang, aku mulai tersiksa. Tirta tetap mengemudikan sepeda motornya dengan sedikit cemas.

Oh ya, aku memiliki sebuah alergi yang cukup aneh. Sejak aku kecil, ketika melewati jalanan yang tak rata, entah gronjal-gronjal, bergelombang, berlubang-lubang atau sejenisnya, tubuhku dilanda gatal-gatal. Ternyata Mbak Crisnha juga memiliki alergi serupa. Tak kira, alergi aneh ini cuma aku yang punya.

Di tengah jalan penderitaan itu, sesekali aku turun dari sepeda motor untuk berjalan kaki. Jalan berbatu-batu lancip dengan beberapa tanjakan juga tak mudah untuk dilalui. Dengan aku turun dan berjalan kaki, setidaknya Tirta lebih leluasa untuk mengemudi.

Setelah berpuluh kali mengusap peluh, akhirnya atap-atap parkiran Pantai Timang mulai terlihat. Suara ombak mulai terdengar disampaikan oleh angin yang berhembus cukup kencang.


Pantai Timang ini sebenarnya memiliki dua bagian. Pantai dengan pasir putih di sebelah timur, dan tebing dengan gondola dan jembatan gantungnya di sebelah barat. Namun, yang selama ini dikenal oleh orang-orang adalah tebing karang dengan gondola dan jembatan tali itu karena gambarnya sering muncul di dinding-dinding media sosial.

Kami termasuk ke dalam orang-orang yang berduyun menuju Pantai Timang di sisi barat. Dari parkiran, kami harus berjalan agak menjanjak naik mendekat ke arah tebing Timang dengan jembatan tali dan Gondola.

Dalam benakku, tak terbesit  sedikitpun untuk turut menaiki atau meniti keduanya. Tarif meniti jembatan adalah: Rp.100.000 atau naik gondola: Rp.150.000. Belum lagi harus mempertaruhkan nyawa terombang-ambing dalam teror ombak, angin, karang, dan ketinggian. Hmm lebih baik aku menjadi penonton saja di pinggiran.



Dahulu kala, gondola itu difungsikan oleh penduduk sebagai sarana menyebrang ke Batu Panjang dan Pulau Timang untuk mencari lobster. Bahkan dulu ketika tiga tahun lalu aku ke sana, hanya terdapat gubug kecil, sebuah dipan, dan tungku menyala milik salah satu warga yang dibangun di sela rimbunnya tanaman pandan berduri. Gubug itu dijadikan tempat istirahat para pencari lobster.

Kini Pantai Timang telah berubah. Warung-warung sudah tersedia, toilet dan tempat parkir yang luas sudah berdiri. Di sekitar gondola dan jembatan tali juga dibangun spot-spot dermaga pendek dari kayu, dan lingkar bunga-bunga palsu.



Di tebing sebelah barat, berjejer rombongan pemancing khusyu dengan tangkai-tangkai pancing melurus dalam genggaman. Aku, Tirta, Mbak Crisnha dan Viki duduk-duduk di kursi getek bambu di bawah rimbunnya daun pandan. Kami mengiramakan nafas untuk kembali normal, dan sesekali meneguk air mineral agar tak dehidrasi.



Aku perhatiakan, setiap siapapun yang tengah meniti jembatan dan gondola, perjalanannya tak lepas dari rekaman mata kamera. Mereka bersandiwara tertawa dalam takut, ada pula yang bergaya dalam cemas. Sedangkan para penarik tali gondola yang bahu membahu mengulur dan menarik tali sesekali melempar candanya.


Perawatan jembatan tali

***

Pantai Sedahan Sesudah Surut


Memutuskan untuk meminang Timang di siang bolong memang butuh niat dan perjuangan. Telah menempuh jalan rusak menuju Pantai Timang sejauh dua kilometer lebih jaraknya ternyata masih kurang juga. Kami meneruskan perjalanan ke Pantai Sedahan, sebelah timur Pantai Wediombo dengan menempuh jalan rusak serupa.



Ini dia dua perempuan yang kutulis sebagai bodyguard kami. Atlet kempo :p, Mbak Crisnha dan Viki
Sampai di sana, pojok sana-pojok sini dihiasi oleh pemandangan berpasang-pasang muda-mudi. Ternyata jalan terjal tak menyurutkan langkah mereka untuk memilih tempat memadu kasih.

Kami memilih untuk menepikan diri di bagian tepi pantai sebelah barat. Membenamkan kaki dalam kuburan pasir panas. Menyaksikan air surut Pantai Sedahan yang mulai menampakkan ganggang hijaunya.


Setelah meninggalkan Pantai Sedahan, maksud hati sempat berniat untuk mengejar sunset. Namun, dalam perjalanan pulang dari Pantai Sedahan, kami salah memilih jalan. Jatuhnya malah memutar jauh melewati Paliyan, Gunungkidul. Waktu sudah tak memungkinkan, perut juga sudah mulai cari perhatian dengan bergendang berisik.

Pantai Sedahan dan TPA sampah Piyungan adalah selingan, karena seungguhnya tujuan utama kami adalah Pantai Timang dengan lika-liku ujian perjalanannya. Ya semacam si anu mungkin hanya dihadirkan sebagai selingan cerita lika-liku dalam hidupmu, karena tujuan utamamu adalah diaaa.

Setelah sampai rumah Alhamdulillah dalam keadaan selamat dengan keadaan malam gulita, lika-liku itu masih berlanjut. Aroma sampah TPA Piyungan masih juga mengikutiku sampai dalam kamar. Sebentar duduk di atas dipan kamar, aku langsung disambut Ibu dengan segenap omelannya beliau.

“Ingat pasal satu? kalau main tak boleh sampai larut petang, kamu perempuan”. Mendengarnya, aku hanya bisa terdiam tak menyahut apa-apa.

Setelah kini aku berjauhan jarak dengan Ibu, kenapa justru omelan beliau ketika aku pulang larut menjadi cerita rindu?

***

Catatan: Foto yang ada aku-nya, kredit foto dari Tirtaperwitasari.

Terima Kasih Sudah Berkunjung

55 comments

  1. Ku belum pernah ke sini. Wkwkwkw ternyata mehong jg ya naik gondolanya. Hahahaa spertinya kumemilih duduk manis spertimu kalo ksana mba. Ehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada juga yang prewed di Timang mas.. Mas Aji bersedia dan tertarik? Wkkw
      Iya mahall... Mending go tumbas gorengan dulu, nanti kalau udah disawer Bu Dendi baruuuu naik gondola :p

      Delete
  2. sekarang udah nggak ada yang bisa ngece mbak dwi kalo mbak dwi pas jalan jalan ketemu orang pacaran. hahahaha

    pantai timang dulu aku ke sana sama Alm Om Cumi. pertama kali ketemu sama ebret berdua. wkwk.

    itu sapi-sapinya apa nggak bermasalah pencerenaannya ya makan sampah begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ece aku mass ece akuuu wkkw
      Iya, aku juga baca artikelnya almarhum pas itu mas. Sama Hannif dan Reza kan? :))

      iya, emang makanan sapinya ya dari mengais sampah itu mas. Hmm dagingnya mengandung apaa gitu, jd perlu dikarantina selama beberapa bulan dulu sebelum disembelih.

      Delete
  3. Waini, pantai yang sejak dulu pengen saia datengin..
    Sayangnya belum kesampaian.. hoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agendakan, siapa tahu berminat naik gondolanya mas :P

      Delete
    2. Naik gondola..?? Hmm.. Menambang duit dhisik.. hoho

      Delete
  4. Itu serius mbak ? lewat jembatannya 100rb ?

    Dulu sepupuku pernah nyoba naik gondola, dan tarifnya masi 80rb 😂 skrg uda 150 aja
    Kalau jalanya gronjal gt, aku jadi teringat waktu mantai di Malang selatan 😂 batunya lebih sadis pas hujan jadi licin juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin hits semakin naik teroooss wkkw
      Eh tapi ya husnudzannya mungkin itu kan menyangkut nyawa, jadi butuh biaya perawatan yang nggak sedikit.
      Aku bayangin gimana cara menghubungkan talinya kok bisa sampai seberang aja nggak nyampai pikiranku haha.

      Nah dicobain lagiii, coba lebih parah mana sama jalan rusak menuju salah satu pantai di Malang

      Delete
  5. Ternyata sapinya bermasalah dan kudu di karantina mbak? Di mana ya? Wah jadi penasaran. Kan padahal di sana para peternak sapi semua. Sama penjual abon abon di pasar pasar gitu katanya dari daerah sana.
    Btw ke pantai terakhir kali 2014,anterin ke sana mbaak wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seriuss rin? Abon-abon di pasar gitu dari sana po sapinya? Aku malah lagi denger. Biasanya mulai ramai itu kalau pas hari raya kurban. Nah suka pada ngributin sapinya dari piyungan atau bukan :o

      Aku juga nggak ngerti di mana le ngarantina sapi. 4 bulan kalau ga salah. Dipakanin normal laiknya sapi-sapi, biar kembali netral. Eh tapi tetep ngeri juga huhu

      Ke Pantainya milih ke Trisik, apa Glagah? Wkwk coba kode-kode dikit ke masnya biar dianterin :p

      Delete
  6. Itu yang pada nyebrang ndak kemecer kakinya? Huahaha.. Tapi ingiiin merasakan juga nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku mungkin udah susah melangkah kalau sampai tengah jembatan terus terombang-ambing angin, bawahnya ombak :p

      Delete
  7. Tiap ingat pantai Timang kok, ingat motor supra teman yang kunaiki tahun 2013 di sini hahahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Sitam 2013 udah ke sini ya? sekarang dibaleni lak bedaaa tenan suasananya :p

      Delete
  8. Aku kayaknya mikir 10x lho Mba kalau disuruh njajal nak gondola P.Timang..hehehe..ngeri yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tosss... Hehe
      Iya ngeri, terombang ambing gituu

      Delete
  9. Astaga, sapi2 itu kasian banget yaaa makan dari sampah ..

    Aku juga pengin nyobain melewati jembatannya ... pasti seru ya,kak ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kasian sapinya dan manusia yang mengonsumsi daging sapi tsb. Huhu.
      Dicoba aja kak, hehe aku juga belum pernah :p

      Delete
    2. Yuuh .. sama aja manusia menkonsumsi daging sapi campuran plastik ya, kak 🤔

      Takut yaaa nyobain nglewatin jembatan .... 😃 ?.
      Hehehe ... Mungkin kalau mood ku lagi turun juga rada ngeper nyobain nglewatin jembatan bambu.

      Tapi,kalo mood lagi oke2nya ... hayooo aja 😁

      Delete
  10. Pantai Timang sekarang kelihatan semakin ramai ya mbak? Ngomong-ngomong itu pengunjung yang main-main di spot dermaga yang di pinggir tebing ga takut kesembur ombak po? Wkwkwk aku dulu pernah kesembur ombak soalnya pas main-main di pinggir tebing :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyes mas, apalagi setelah masuk acara ala korea yang banyak fans cewek-ceweknya gituu... Semakin boominglah pantai ini.

      He em. Itu spot-spot di pinggir tebing juga tak terjamin lho keamanannya kaya apa :( padahal bayar

      Delete
  11. PANTAI TIMANG keren sekali untuk dikunjungi terutama spot fotonya ruaar biasa, dengan gondola dan jembatan, tapi saya sepertinya tidak punya keberanian untuk menyebrang he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, meskipun jalannya masih belum mulus tapi tak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung. Hehhe berani jika ada yang nemenin?

      Delete
  12. widih... serem sekali jembatanya..
    bisa mikir 1000 kali klo saya disuruh nyebrang pake jembatan itu.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. He em, bagi yang berminat melakukan pemanasan sebelum menyeberang jembatan sidratul muntaha 😅😆

      Delete
  13. TPA nya Jogja ada di Bantul toh mbak? Tak kira didaerah Jogja nggak ada TPA macam ini lho. Lha kalau pas lewat Jogja keliatannya aman-aman aja. Ngga ada bau-bau menyengat disepanjang jalan. *fix!dolanmu kurang adoh, Nu*

    Wah ada fasilitas baru buat berburu foto kekinian di Pantai Timang. Kalau lihat fotonya pengen nyoba, tapi pas tau harga "tiketnya", lha kok bikin ngelus dada. Mahal eeeee. Hehehe. Jembatan gantungnya itu belum lama kayaknya ya mbak? Yang sering bersliweran di IG ku kok yang pakai gondola itu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kok TPA nya itu tersembunyi di pojokan deket Gunungkidul mas, tapi masih masuk Bantul. Huhu jangan ke sana kalau nggak mau howek-howek :(

      Iya, jembatannya baru. Dibangun setelah adanya gondola. Jembatan semacam ini juga ada di Pulau Kalong (deket Pantai Sedahan) atau Pantai Nglambor mas.

      iyoo mahal :( itu bisa juga terus naik harganya huhu

      Delete
    2. Oh, jauh diperbatasan sana ternyata. Pantesan ngga pernah liat.
      Baiklah, akan saya urungkan niat itu. Mending nyari tempat lain. Hehehe

      Delete
  14. aku cuma rencana dan renacan terus ke sini
    entah kapan wkwkwk
    tapi agak parno mesti liat jembatan ato keretanya
    yang bikin grrr itu ombak pantai selatan kan gede banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Realisasikan mas, tapi kalau mau ke sana, jangan lupa cek lagi bahwa kendaraan skrup, bautnya nggak kendor wkwk. Jalannya masih kaya begitu e...
      Iya, daya tariknya Pantai Timang kan emang ada di jembatan sama gondolanya itu :))

      Delete
  15. Ngeri juga cara nyebrangnya...mana bayar mahal lagi. Tapi bagi traveller sejati mah segitu tak ada apa2nya. Kalo aku sepertinya pake jembatan saja deh, meskipun mesti pikir 1000x dulu hahaaaa....

    ReplyDelete
  16. Bagi ku cara menyebrang lewat jembatannya ngeri banget..

    ReplyDelete
  17. Fix, dapet referensi nih, baru aja ngelist pantai ini aku, Teh..he
    Bagus juga ya, sepertinya kalau pagi atau sore asik ya, siang panas.. :)

    Tapi lumayan bayarnya ya, Teh.. Pikir dulu ah..he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau cuma nonton gondola sama jembatan gratis mas... wkwk masuk tpr thok. Terus kalau siang hari emang puanasss

      Delete
    2. Tapi aku suka penasaran kalau udah kesitu, baiknya sih nabung dulu ah..hehe

      Delete
  18. naik jembatan itu harus nyiapin budget yang gede :v

    ReplyDelete
  19. Tarif nyebrang jembatan dan pakai gondola itu termasuk ada asuransinya ngga sih, kak ?.

    Kalo tiba2 talinya putus ... piye ya 🤔 ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau mas...
      Kalau putus ya diterima sama ombak... wuuussshhh

      Delete
    2. Huhahahaa ... 😃
      Serem juga ya,kak.
      Disapu ombak gede 🏊‍♂️ dan karang karang tajam.

      Tapi bikin penasaran pengin nyobain.

      Delete
  20. Aduh kok aku fokusnya malah ke TPA Piyungan. Gara-gara baca Aroma Karsa, nih. Mbak Wi, bikin tulisan ttg TPA Piyungan yang lebih panjang dong ahahahaha (ini gayaku udah kaya pimred nagih tulisan ke redaktur belum? nyiahahahaha)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pingin mbaa... nulis salah satu kisah di TPA sampah Piyungan sana, tapi bukan tentang perparfuman lho.. tentang kisah-kisah gigih para pengumpul sampah :))

      Hanya saja, sungguhhh aku tak tahan sama bau sampahnya mba... angkat tangan dehh

      Delete
  21. penasaran juga buat datang ke lokasi ini pas di jogja cuma memang butuh transportasi pribadi buat ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agendakan mas :)
      lengkapnya sih kalau bisa nyobain gondola sama jembatannya :p
      Nggak kaya aku, cuma jadi penonton di pinggiran :(

      Delete
  22. Yang menantang begini nih yang paling bikin penasaran :D
    Mungkin nanti kalau ngetrip ke Yogyakarta lagi harus mengunjungi daerah lain di sekitarnya termasuk Pantai Timang ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba kak, di Jogja masih banyak tempat-tempat tersembunyi yang menarik kok :)

      Delete
  23. Wealah, pantai timang udah tambah spot, jalannya masih gitu-gitu aja dari dulu. Nice post mbak. Aku malah pengen datengin pantai piyungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaa... mau ngapain mbak ke TPA Piyungan :o
      ntar kalau howek-howek nggak nanggung loh akuu :p

      Iya, mungkin jalan menuju Pantai Timang tetap seperti itu karena juga menjadi salah satu mata pencaharian warga sekitar lewat ojeknya :)

      Delete
  24. Mahal juga ya untuk naek gondolanya. Menguji adrenalin bangat itu mah.
    TPA Piyungan seperti itu kah sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas... yang naik gondola itu cuma pengunjung yang bener-bener niat dan bernyali :p
      Katanya sekarang TPA Piyungan lebih parah lagii sampahnya

      Delete
  25. Pas nyebrang pantainya deg deg'an nggak mbak? kok saya ngelihat aja udah ikutan deg deg'an ya? kayak ketemu si dia #Ehh -.-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe di situ udah kuceritain aku memilih duduk-duduk aja mas, memperhatikan orang-orang yang naik gondola dan jembatan.
      Duh ketemu dia aja deg-degan yak? apalagi pas menghadap bapaknya :p

      Delete