Terpincut Kabut Pagi di Imogiri

Tuesday, August 14, 2018


Saya membuka kaca helm sambil menyondongkan wajah ke depan. Tepat di samping kiri telinganya suami, saya bercerita bahwa hamparan sawah di sisi kiri itu adalah salah satu tempat kesayangan menemui pagi di Imogiri.

Kemudian kendaraan dipelankan menuju berhenti. Sebentar, masihkah ada gerombolan kerbau yang seringkali mondar-mandir menarik bajak sawah?

Oh ternyata, sawah telah usai dipanen. Perasaan beberapa waktu lalu lewat jalan ini, tanaman padi itu masih bayi. Kini telah dibabati, menyisa kaki-kaki tanaman padi yang masih kuat bertopang akar. Ia telah menguning, hampir berubah cokelat warnanya.

Beberapa saat menunggu, saya tak kunjung bertemu kerbau. Hanya ada gerombolan kambing yang ditunggui oleh pemilik yang tengah asyik bercerita dengan bapak-bapak pembawa sabit.



Dengan sedikit berlari mencincing rok bunga-bunga, saya berlomba cepat dengan sinar pagi yang mulai meninggi. Ini masih pukul enam pagi lebih sedikit, panas belum lah terlalu menclekit. Ide untuk duduk-duduk di tengah sawah sepertinya bukan ide yang buruk.

Meski jalan raya di sebelah nampak hingar-bingar, di tengah sawah ini serasa senyap. Bahkan gerombolan kambing itu tak bergeming akan kehadiranku. Mereka tetap hening sarapan rumput tanpa basa-basi menawari.


Kabut semakin menjadi pengisi ruang luas ini. Kambing-kambing putih itu jadi tersamar oleh warna kabut. Beberapa Petani pun mulai meninggalkan garapan sawahnya. Mereka menuju galengan lebar itu kemudian mulai menggenjot sepedanya pulang.

Sepertinya ada yang berubah dari tempat ini.

Ketika kita sudah terbiasa dengan sesuatu kemudian ada satu hal kecil pun yang berubah, pasti terasa. Begitupula saya. Baru sesaat kemudian saya tersadar. Pohon-pohon yang dulu menghuni pembatas tiap petak sawah itu perlahan telah hilang. Sudah taksebanyak dulu. Tinggal beberapa yang tertinggal, lainnya telah tanggal.

“Kamu jangan mau dicabut, terganti tiang besi dan beton ya hon?” Saya berbisik kepada pohon yang masih tersisa tegak berjarak 100 meter. Semoga suaraku disampaikan dengan baik oleh kabut. 



Tapi pohon bisa apa? Ia hanya terus memberi oksigen sebanyak-banyaknya, memberi batangnya, daunnya, rantingnya, dan teduhnya. Sisanya, bagaimana manusia memperlakukan.

Saya mencoba untuk mengulang-ulang memencet tombol shutter kamera. Jadi mendadak melankolis jika suatu saat tempat ini perlahan menghilang sebagai tempat nyaman menemui pagi di Imogiri.



Hei, kenapa kabut pagi ini awetnya seperti kenangan?

Saat ini memang menuju musim kemarau. Selain kabut, aliran Kali Oya juga sedang hijau-hijaunya. Akhir-akhir lalu saya berkali-kali memberi kode suami ingin bertemu Kali Oya. Sudah pindah rumah berpuluh kilometer pun tetap tak mengurangi kadar rindunya. 

Takheran, Ibu saya saja sudah hafal benar jika hari libur tiba kemudian pagi-pagi saya sudah menghilang. Kalau tidak kabur ke Dlingo ya Imogiri (Selopamioro). Beliau pernah menyampaikan pesan: “hati-hati kalau sobo kali, kamu ki nggak tau dalemnya itu seberapa?”

Padahal saya tidak pernah menyemplungkan diri, eh beberapa kali sih kalau dasarnya memang kelihatan dangkal. Kalau tercebur dalam perasaan yang dalam, mmmh pernah.


Sepanjang aliran Kali Oya adalah tempat-tempat yang sering saya jadikan pelarian. Beberapa tulisan saya telah merekamnya:


 atau


Namun sepeninggalan jembatan gantung kuning Selopamiro yang hanyut dibawa banjir besar awal Desember 2017 lalu, sampai saat ini belum ada penghubung antara Sriharjo-Selopamioro. Kami memilih menyusuri jalanan sisi selatan Kali Oya, tepatnya di Desa Selopamioro.



Raga telah berpindah dari sawah, tetapi ini masih berada di belahan bumi Imogiri. Bibir Kali Oya, pada batuan menanjung mengikuti liukan kali. Tak berbeda, di sini juga sepi. Rumah-rumah masih dengan pintu tertutup, keramaian pecah di sawah tengah-tengah seberang kali. Dari kejauhan terlihat, mimik wajah mereka sepertinya sedang terlibat percakapan.


Aku juga tengah bercakap, pada rindu yang tak kunjung merasa cukup.
Sihir apa yang kamu punya?

Terima Kasih Sudah Berkunjung

54 comments

  1. Syahdu ya ngliat kabut di pagi hari itu. Membaca ini rasanya jd melankolis sampai pd bagian "Hei, kenapa kabut pagi ini awetnya seperti kenangan?"

    Gosah bawa2 kenangan bs ga sih? Merusak suasana :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha kapan sih mas kamu nggak melankolisnya? :p
      Ya kalau foto-foto model bisa dibaper-baperin gini aku cepet nulisnya. Kalau tentang candi, tempat bersejarah, gitu-gitu paling setahun baru rampung le nulis haha

      Delete
  2. Masih ada satu tempat di sekitaran sana yang ingin kuabadikan, tapi belum sempat. Sekarang sudah mulai lupa sepedaan pagi :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sisi mananya mas yang masih pingin diabadikan?
      Iya lho, semakin usia bertambah, kalau nyepeda jauh-jauh sudah tak bertenaga dan semangat kaya waktu muda. Haaa kecuali orang-orang tertentu ding.

      Delete
  3. Mbakkkkk favoritkuuuu... Adem banget baca tulisannya. Fotonya apalagi.. Btw, suasananya sepintas mirip di film Woman in Black. Tapi itu film horor, mbak T.T Untung ini pagi. Eh, apa jangan-jangan Pak Tani itu sesungguhnya babang Daniel Radcliffe?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh kenapa imajinasimu nganu sih :D\
      Ini tu cuma di sawah sebelah timurnya Kebonagung itu...

      Kamu juga bloger favoritnya aku. Tiap jenuh, gampang stres, cuss aja ke missnidy.com. Habis baca ketawa ketiwi koyo wongedan. Ahahaha. Semoga pahalamu mengalir dari tulisan-tulisanmu salahsatunya miss. aamiin

      Delete
  4. marai kangen Imogiri, aku dulu ceguran dolanan gethek ning oyo seneng banget, seru banget, tapi kalau kabut aku sekarang hampir tiap hari menikmati dirumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama.. entah kenapa kok Kali Oya bagian Selopamioro ini seperti punya daya magis sendiri ya? Semacam bedaa..bikin kangen.
      Oiya lah, lha rumahmu aja ada di daerah syahdu mas. Cobaa aja aku bisa menemui kabut di Jogja bagian tugu. wkwk.

      Delete
  5. Wis suwe ora menyang Imogiri + ngrasakne suasana berkabut koyo ngene..
    Bahkan di atas gunung pun tahun ini belum merasakan kabut..

    Dadi pengen nJogja deh.. hoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga. Kabut itu tak bisa diprediksi datangnya kaya perasaan *eh
      Bisa jadi udah mempersiapkan nyunrise sedemikian ternyata kabutnya mabul-mabul, kadang bagus, dan lain sebagainya.

      Njogja deket lhoo...tinggal cuss

      Delete
  6. Beberapa waktu lalu ku juga merasa sangat rindu dengan Imogiri, eh Karangsemut ding tepatnya ahahaha. Rindu ngobrol sore di jembatan panjang, rindu menghitung bintang jatuh sambil duduk di atap posko, rindu berlarian di antara kebut pagi. Ah, daerah sawah Imogiri emang ngangenin ya. Sedih ih kalo pohon-pohonnya mulai menghilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karangsemut penuh kenangan. Termasuk tentang cinta yang tak disatukan *ehiniapa
      Karangsemut itu bukannya jembatan yang melintas Kali Opak ya mbak? sebelum Pasar Imogiri kalau dari utara? ya daerah sana menjelang Wukirsari?

      Semoga pohon-pohonnya tetap menyisa mbak. Aku juga nggak mau sawahnya gundul. huhu. Biar buat tempat neduh petani dan lain-lain.

      Delete
  7. Baca tulisanmu ki rasanya kayak menembus kabut, atau menginjak rumput yang basah oleh embun pagi. Adem-adem dingin.
    (((Adem-adem dingin)))

    Piye kui -___-

    Sawah-sawah itu masih akan tetap jadi lumbung pangan bagi manusia berapa tahun lagi? Sebelum terdesak oleh manusia itu sendiri :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Jooo apakah ini yang komen beneran Mas Jo? kok aku dibuat terhura oleh komenmu yang agak nggenah sitik. Makasiih :'))

      Iya, lhawong misal dulu ki bener-bener sawah luas nan lebar, beberapa tahun kemudian lewat jadi toko. Cepet banget prosesnya ki. Pertumbuhan manusianya juga cepet. Huhuhu. Terus kan katanya Indonesia semakin darurat petani :(

      Delete
  8. Penampakan kabut memang bikin suasana jadi dramatis,ya ... seolah kayak di alam misterius.

    Kak Dwi berasal dari Imogiri, ya ?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dramatis dan syahduudududu
      Aku dulu aslinya Bantul mas, terus sekarang ikut suami di utara Stasiun Tugu Jogja.

      Delete
  9. Apalagi kalau aku. Bahkan tiap sudut saja bisa ada kenangannya. Haha
    Aku langsung nyess pas Mbak Dwi melakukan pembicaraan imajiner dengan pohon. Seakan-akan ya kita bisa ngomong sama pohon terus pohonnya sedih karena temen-temennya udah pada ilang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di tempat-tempat tertentu (yang mengandung sejumput kenangan), meski ia diam tanpa suara tapi dia semacam bercerita banyak. Dan kita hanya bisa tersenyum tipis, atau termangu sesaat.

      Aku sering mas ngobrol kaya gitu, kadang lirih, kadang tak batin, tapi mataku menatap ke arahnya. Aku yakin dia mendengar. Meski entah bener bisa denger nggak ahaha sik penting yakin.

      Delete
  10. Sedih memang mbak. Tapi mungkin sawah di Imogiri ini masih (lumayan) beruntung, karena belum 'hilang' dan berubah jadi deretan perumahan. Beda kaya beberapa petak sawah di deket rumahku yang hampir sebagian besar sekarang beralih fungsi jadi rumah-rumah gedong masa kini.

    Ini ada kejadian ketinggalan helm sebelum berangkat, kaya yang di tweet beberapa hari itu nggak, mbak? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur memang, daerah Bantul selatan sawahnya masih berpetak-petak luas. Beberapa sudah dicaploki "rumah-rumah", beberapa masih menunggu giliran. Semoga tetap terjaga.

      Haa enggak mas, pas itu kejadiannya malam hari. Kalau siang udah ketilang akuu *oopsss

      Delete
    2. Aamiin. Jangan sampailah itu ikut-ikutan dicaplok jadi perumahan.

      Wkwkwk, tak kira pas mau ke Bantul ini juga ngalami 'helm ketinggalan'

      Delete
  11. Memang inilah mbak Dwi. Seperti biasa. Diksinya melankolis, menyayat perasaan 😍

    Saya jadi teringat sawah di depan kos saya saat ini. Awal-awal dulu banyak kerbau. Lalu sekarang berkurang, bahkan sepetak tanah bekas sawah berganti bangunan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Rifqy kan mas suhuunya. Ada kekurangannya mas, menulis mengandalkan perasaan itu susahhnya adalah moodnya. Nggak bisa konsisten. Sepertinya bener saranmu, diposting atau tidak, biasakan menulis setiap hari meski satu paragraf kecil :))

      Iyaa.. aku juga merasa kehilangan. Pemandangan adem-adem perlahan mulai sirna. Huhuhu.

      Delete
  12. Memang syahdu sekali, membaca ceritanya seperti mendengarkan cerita seorang Ibu kepada anaknya, emang juara deh, Pujaan hati Mas Wijna #standingapplause

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha belajar jadi pendongeng buat anak dong ya? :p
      Terima kasih mas sudah membaca :')

      Delete
  13. Sihir Imogiri selalu menggantung imajinasi tentang Jawa yang dirindukan suasana pedesaannya. Kabut merasuk dalam labirin-labirin kenangan tentang dulu. Dulu saat suka kelayaban pagi-pagi sebelum Shubuh. Tentang penjemputan baskara..

    hahaha

    Tulisan ini sungguh nganu.. nganu bagus mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasiiih mas...

      Betul sekali. Pernah kutulis di artikel tentang Imogiri jauh sebelum ini. Imogiri itu semacam laboratorium alam, sosial, gratis yang masih disisakan Tuhan. Siapapun boleh mengakses dengan gratis dan cuma-cuma.
      Di sana ada kali melintang, tebing menjulang, sawah membentang, kerajinan, budaya, tradisi, batik, dan masyarakatnya yang renyah ramah.

      Tempat ini, salah satu ruang kecil kesayangan :)

      Delete
  14. Jangan lupa menyantap sate klathak. Biar lengkap...

    ReplyDelete
  15. KENAPAAA DIRIMUUUU MENGIBARATKAN KABUT SEPERTI KENANGAN YA BUSEEEET, MBAK WGWGW :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha kan awet masa dari jam enam sampai jam sembilan nggak ilang-ilang lho Feb, kalau kenangan awetnya seumur hidup :p

      Delete
  16. Mbak, ini mirip mirip sawah yang tiap pagi kutemui di sepanjang Jalan Daendels. Tapi juga ntar ujungnya di pembangunan bandara sih. Semoga aja masih tetap sama ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin ya Rabb... semoga sawah-sawah masih mewah bertahta di penjuru desa :)

      Delete
  17. Usually, I never comment on blogs but your article is so convincing that I never stop myself to say something about it. You’re doing a great job Man. Best article I have ever read

    Keep it up!

    ReplyDelete
  18. eman-eman kalau pohonnya pada ilang ditebang, nanti kabutnya ga fotogenik lagi kalau difoto :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh, kalau ditebangi terus kabuten jadinya mung putih thok, serasa di studio foto pakai kain putih :D

      Delete
  19. Apa ya bahasa yang tepat untuk menggambarkan catatan ini? Surreal?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah nggak tau mas :p
      Lha asal nulis saja ini, kebawa perasaan saja mungkin ya nulisnya :))

      Delete
  20. Aku baru tau loh,di Imogiri ada spot seperti itu, kabutnya bikin merinding,adem kalo liat sawah

    ReplyDelete
  21. Ah, selalu suka deh kalo liat kabut pagi gini.
    Eksotis aja liatnya.
    Kemegahan tersendiri buat yang liat secara langsung.
    Kemarin ke Imogiri sayangnya gak sempat liat kabut kayak gini, lha pergi kesananya aja kesiangan gegara telat bangun, wkwkwk :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lainkali bisa dicoba mas, diniatkan hehe. Sekitar jam 06.00 gituuu
      kalau beruntung jam 08.00 belum pergi-pergi kabutnya

      Delete
  22. Pagimu mengesankan, mbak! Sawah, kambing, halimun, dan gunung-gunung di kejauhan. Ingin rasanya berlama-lama sambil mengudap jajanan pasar dan secangkir kopi hitam panas.

    Semoga sawah-sawah di Jogja akan terus bertahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, semoga anak cucu nanti tetap bisa menikmati hamparan sawah dan nikmat paginya :)

      Ah membayangkan saja sudah enak sekali sepertinya ya? semacam syurga duniaa, menikmati jajanan pasar sambil menikmati pemandangan sawah dan halimun.

      Delete
  23. Tidak hanya foto-foto yang indah, njenengan juga menuliskannya dengan rangkai kalimat yang indah, saya sukaaaa...

    ReplyDelete
  24. Mbak dwi,,, aku sukaaa banget bacanya... bagi ilmunya dong supaya aku juga pandai nulis kayak mbak...

    ReplyDelete