Menuju Penghujung Kemarau, Di Seberang Bukit Mojo

Wednesday, October 04, 2017



Cerita ini bermula dari kunjunganku beberapa waktu yang lalu di Bukit Mojo, Dlingo. Pada waktu sore menjelang senja kala itu, mataku justru terus tertuju kepada bukit-bukit gersang di seberangnya. Padahal, pasangan-pasangan  duduk beromantis menanti senja. Mereka silih berganti menduduki kursi dengan cangkir kecil di depannya.

Adegan demi adegan berdua dalam naungan senja itu tak berhasil mengalihkan pandanganku. Mataku malah terus berfokus kepada Kali Oya dengan aliran hijau khas musim kemarau. Ia seolah tengah menikmati perjalananannya yang penuh kelok mengikuti irama lengkungan yang diapit dua bukit. Selanjutnya, bukit-bukit yang tengah meranggas di selatan Kali Oya menjadi tempat yang begitu aku pertanyakan kala itu.

Sudut ini sering dijadikan tempat favorit bagi sepasang menanti senja

Aku dibuat penasaran dengan bukit gersang di seberang
Senyumku terus mengembang berbalut penasaran. Mataku terus menari ke sana ke mari mengamati satu per satu bukit-bukit dengan hiasan batang pohon jati meranggas di seberang sana. Sepertinya dekat, hanya tersekat beberapa meter lebarnya Kali Oya. Namun kenyataannya tinggi jurang telah memisahkan yang dirasa dekat. Untuk menuju bukit seberang, aku harus kembali memutar, turun dari Dlingo kemudian menuju Jalan Panggang ke arah Gunungkidul. Hmm, butuh niat dan tekad. Namun perasaan penasaran terlanjur berkecamuk senja itu.

Suatu hari tanpa jeda lama, aku harus sampai sana, di seberang Bukit Mojo itu.

Seperti sudah ingiin ketemu, namun terus dibatasi waktu. Sampai suatu pagi aku sudah berada di puncak ingin sekali bertemuu tanpa harus menempuh menunggu berhari-hari lagi.

Pagi hari menjelang jam delapan, kuniatkan untuk menempuh Jalan Panggang yang dihuni deretan truk pembawa batang kayu-kayu besar. Entah kenapa, pagi itu sepertinya aku sedang tak terlalu fokus. Mataku malah terus mengamati kanan dan kiri jalan yang berupa lembah-lembah jurang.

Sesekali ban sepeda motor terlalu ke kiri hingga menerjang rerumputan di pinggir jalan. Kurem sejenak, kemudian berhenti. Sepertinya aku terlalu bersemangat, mencari sesuatu yang terlanjur membuatku penasaran dari kejauhan.

Persawahan bawang merah sebagai pemandangan sebelah barat jalan
Arah papan petunjuk menuju Sekolah Polisi Negara Selopamioro telah kuikuti dengan baik. Aspal halus nan lebar itu semakin membuatku leluasa mengendalikan sepeda motor sambil menikmati pemandangan. Sebelah barat jalan ada hamparan berundak tanaman bawang merah yang sedang digarap petani sepagi itu. Embun-embun memang telah enyah dari ruang daun. Matahari mulai meninggi menghangatkan separuh diri yang belum sepenuhnya sadar bisa sampai di tempat ini.

Gerbang masuk menuju Sekolah Polisi Negara, Selopamioro
Akhirnya aku berhenti setelah sampai tepat di depan gerbang besar Sekolah Polisi Negara Selopamioro. Di pemberhentianku itu, hanya terlihat ada satu-satunya pilihan cabang jalan ke kanan berupa jalan corblok halus. Menurut perasaan perempuan yang tak terlalu peka ini, turut saja lah jalan itu. Sepertinya percabangan jalan dengan arah menurun itulah yang akan mengantarku lebih dekat dengan keberadaan Kali Oya.

Ban motorku lancar menggelinding dengan sesekali tarikan rem. Oh kontur jalanan ini memang menurun terus dengan sesekali meliuk. Lumayan curam, ditambah kerikil pasir di sepanjang kanan dan kiri jalan membuatku terus was-was dan menjaga konsentrasi. Jika saja “nggak fokusku” kumat, bisa-bisa aku tergelincir. Aku kan hobi terpeleset. Huhu.

Jalan corblok halus yang kadangkala berganti jalan bergelombang, bolong-bolong.
Tempat ini adalah untuk pertama kalinya kujejaki. Terkadang butuh tengok sana-sini untuk memastikan aku masih dalam keadaan aman karena jalanan terlihat sepi. Hanya terlihat satu-dua rumah di pinggir jalan. Selain itu hanyalah batang-batang gersang pohon jati yang telah ditinggal meranggas daun-daunnya.

Alur jalan ini cenderung lurus dengan minim cabang. Hanya beberapa saja cabang jalan sempit menuju kanan. Karena itu, aku berusaha mengurangi peluang kesasar, mengingat jarum penunjuk bahan bakar motorku sudah menunjuk ke arah dasar. Kalau nanti kehabisan bensin, kanan-kiri jalan tidak ada orang apalagi warung yang menjajakan bensin, teruss?? *naudzubillahmindzalik jangan!

Di benakku saat itu, aku hanya perlu terus mengarahkan laju kendaraanku untuk bisa lebih cepat mendekat dengan pinggir Kali Oya. Tiap kali berada di tikungan menurun dengan sekilas melihat penampakan Kali Oya, perasaanku bertambah lega. Di ujung jalan penghabisan jalan corblok, aku berhenti mengamati sekeliling. Hanya ada rumah kecil yang kosong, kotak biru semacam tampungan air PDAM, juga jalan setapak sepi. Aku putuskan untuk memarkirkan sepeda motorku di sana.

Rumah kecil kosong, tempat di mana aku memarkirkan sepeda motorku

Penampakan Kali Oya dengan jalan setapak sempit di pinggiran bukit
Sedikit penasaran dengan pemandangan di bawah, lekas kumencari akses jalan untuk turun. Terlihat sebuah tangga dengan ranting-ranting kering di sekeliling. Kuberanikan diri untuk masuk di lorong itu. Sesungguhnya agak takut, yang terbayang adalah ada seekor ular yang melilit di ranting tepat atas kepalaku. Kemudian ia menjulur-julur. Huhuhu. Tapi bayangan-bayangan itu segera kusingkirkan. Sepanjang tangga, yang terlihat hanyalah pipa-pipa saluran air berwarna biru mengikuti alur tangga menurun. Kuturut saja sampai ujung.

Semak-semak kering di sekeliling tangga turun menuju Kali Oya

Beginilah tebing batuan hitam yang menjaga hijaunya Kali Oya

Dan aku telah bertemu dengannya. Sebuah perjumpaan di hari Kamis menjelang terik. Aku telah berada di pinggiran Kali Oya di belahan Selopamioro entahlah sebelah mana. Kuhela nafas sambil duduk mengayunkan dua kaki yang tergantung di atas Kali. Tebing-tebing dengan bongkahan batu hitam raksasa itu berada di sebelah kanan dan kiri. Batu-batu besar seperti bangku berada di pinggirannya.

Hari itu aliran Kali Oya seperti diam tak mengalir. Ia menyimpan misteri kedalaman yang belum sempat kuukur meskipun melalui sebuah perkiraan. Aku cukup terhanyut terbawa suasana sepinya tempat itu. Tenang rasanya semacam jauh dari gaduh riuh polusi suara. Namun bukannya tempat ini baru tempat pertama setelah aku tiba? rasanya tak sabar untuk bertemu tempat-tempat lainnya sebelum siang sungguh-sungguh datang.

Kok ada rombongan orang yang bisa duduk-duduk di atas batu seberang sana yaaaa
Bergegas aku kembali meniti anakan tangga itu. Rasanya sungguh berbeda ketika tadi turun tangga. Sekarang harus naik. Nafas mulai terengah dan peluh mengalir basah. Yaa, matahari memang mulai meninggi. Pohon-pohon jati yang sementara pensiun dari kata rimbun, tak lagi bisa menjadi payung meneduhkan sepanjang perjalanan nanti. Aku melirik kembali botol air mineraku, ternyata sisa air mineral di botol juga menuju dasar. Hmmm mau tidak mau memang harus kuhemat setiap teguknya. Semoga cukup sampai dahagaku tak lagi jadi hantu.

***

Sesampainya kembali di atas, seseorang memanggilku dari kejauhan. Seorang perempuan yang sedang sibuk dengan tanaman lomboknya. “Mbak sendirian? Mana temennya? Mau ke mana?” tanyanya tanpa sela. Aku berjalan mendekati posisi beliau berdiri. Sambil menjawab pertanyaan itu satu per satu, aku mulai mengenalkan diri. Kuceritakan juga riwayat alasanku sampai bisa ke tempat ini. Dan beliau berulang kali bertanya, “serius mbak sendirian?” “iya Bu Tik, aku sendirian.”

Bu Tik, tanaman lombok, dan hutan jati yang berbaris

Nama perempuan di tengah-tengah tanaman lombok itu adalah Bu Tik. Sembari menunggui suaminya mencari kayu bakar, beliau menghabiskan waktu tunggunya untuk menyirami dan merawat tanaman lombok yang tumbuh di tanah gersang itu.

Sambil tangannya sibuk bekerja, beliau masih menyempatkan bercerita seputar anjloknya harga lombok di pasaran. Harga jualnya, jika digunakan untuk membayar buruh petik untuk memanen lombok saja rugi. Jadi mau tidak mau, beliaulah yang mengolah, merawat, juga memanen tanaman lomboknya. “Bagaimana lagi mbak, kalau daerah sini ya bisanya tani menanam lombok, jadi meskipun lagi murah-murahnya begini ya tetep dilakoni.”

Hmm jalan setapak dengan langit biru
Tak terasa obrolanku dengan Bu Tik mengalir, mengulur waktu mendekati siang. Jalanan sempit sepanjang pinggiran bukit melambai-lambaikan tangannya ingin segera dipijak. Kakiku seolah terus berbisik mengajak berjalan lagi.

“Bu, boleh saya pamit meneruskan perjalanan ke sana?” tanyaku sambil menunjuk jalan ke arah timur itu.
“Boleh, pesanku hati-hati. Nanti jalan kakinya jangan melebihi rumah terakhir di pinggir hutan itu ya mbak?”
“Lhaa kenapa bu?”
“Soalnya sebelah timur rumah itu sudah hutan, takutnya kalau tersesat dan di sana juga sudah banyak keranya”
“Oh iya bu, terima kasih” jawabku sambil berpamit pergi.

Sepertinya ini jalan aliran anak sungai yang kering karena kemarau
Tak salah memang aku memilih untuk memarkirkan sepeda motorku di atas sana. Jalan dengan lebar sempit yang berbatasan langsung dengan bibir lembah Kali Oya ini memang tak bisa jika dipaksakan untuk diakses dengan motor matic. Keadaan tanahnya yang kering nan tandus tak terasa terlalu berdebu. Dia semacam terlentang dengan selimut daun-daun jati kering yang kadang berbunyi jika tak sengaja terinjak. Jalanan ini pernah kupandangi begitu lama dari atas Bukit Mojo. Kini dia menjadi jalanku mengobati segenap penasaran itu.

Angin kadang berhembus begitu saja, menggerakkan ranting-ranting kering sebagai tirai renggang di pinggiran Kali. Sela-selanya, bisa jadi semacam sebuah jendela yang menghadirkan pemandangan alam bentang Kali Oya yang masih hadir dengan pesonanya.

Mungkin dia diciptakan sebagai magnit kutup utara, dan aku kutub selatannya. Tarikan pesonanya sungguh kuat.
Dari atas, aku melihat gradasi genangan hijau jernih dengan benteng batu hitam berbentuk piramida. Lagi, lambaian tangan Kali Oya menarikku untuk turun ke bawah. Segera kucari jalan untuk bisa mengantarku turun ke sana. Susah payah kusingkirkan semak-semak kering yang kadang berduri. Beberapa tajamnya sempat menempel dan singgah di rok dan kaos kaki.

Kini Kali Oya kembali berjarak dekat tepat di hadapanku. Rimbunnya pohon bambu menjadi pagar sempit penjaga di pinggiran kali. Butir batuan putih di pinggiran dengan suara gemericik air menyanding bagian barat, dekat batu piramida hitam.

Aku sukaa sama batuan hitam berbentuk piramida ini. Unik yaaa...


Bertemu dengan dua pemancing.
“Krek-krek-krek” pijakan kakiku kepada daun bambu kering itu sepertinya telah mengusik kekhusyukan para pemancing itu. Dua orang laki-laki tengah konsentrasi memandangi tengah Kali dengan tangan yang menggenggam erat seutas pancing. “Mas, bolehkah aku ambil foto di sini?” tanyaku memohon izin. “Boleh, silakan” izinnya kemudian. Aku sedikit banyak telah berbincang singkat dengan keduanya. Mereka mengaku sebagai pemancing “catch and release” misalkan sudah dapat ikan, langsung dilepas kembali. Jadi, mereka tidak membawa pulang hasil pancingan dengan alasan agar terus lestari.

Di sekitar tempat ini hanya terlihat hamparan sawah lombok. Rumah terakhir yang menjadi batas perjalananku ke timur itu belum juga tampak. Artinya, aku masih bisa melanjutkan perjalananku lurus ke timur. Beberapa kali sapaan warga yang sedang menggarap sawah di pinggiran Kali mengiringi kehati-hatianku meneruskan perjalanan.

***

Atap sebuah rumah dengan dinding anyaman bambu terlihat dari kejauhan. Inilah batas rumah yang diberikan oleh Bu Tik tadi. Artinya, perjalananku hari ini harus berhenti karena telah sampai kepada batas yang telah ditentukan oleh beliau sebelumnya.

Seorang nenek tengah duduk di bibir pintu rumahnya yang menghadap utara. Sambil asyik meracik sirihnya, beliau menyempatkan untuk tersenyum ke arahku.

“Mbah…” sapaku sambil membalas senyumnya. Beliau membalas sapaanku dengan mempersilakan untuk singgah. Dengan senang hati, aku segera mencari jalan menuju teras rumahnya. Beberapa kursi memanjang dengan bangku besar menghadap kandang ternak. Seusai bersalaman, cerita demi cerita beliau uraikan yang kadang dengan tambahan bumbu jenaka.

Hidup sepasang dalam kesederhanaan

Kandang ternaknya di depan rumah
Mbah Kijo. Begitu namanya, semoga aku tidak salah ingat. Perlakuan ramahnya memang tidak setengah-setengah. Senyumnya kembali merekah memancingku untuk membalasnya. Ceritanya tentang suka duka hidup sendirian tanpa tetangga di pinggiran hutan, cerita tentang kesuksesan anak cucunya, cerita tentang cintanya kepada anjing, kambing, sapi, peliharaannya menjadi barisan kisah siang itu. Beliau mengisahkan begitu panjang, sampai suaminya pulang dari mencari rumput untuk kambing dan sapinya.

Tiba-tiba, beliau masuk ke dalam. Mengambil air panas, teko, cangkir dari tanah liat dan menaruhnya di atas bangku, tepat di depanku. "Monggo mbak, ngeteh dulu" ajak Mbah Kijo sambil tersenyum. Beginilah rezeki Tuhan di tengah isi botol air mineralku yang sudah mulai kerontang. 

Mbah Kijo Putri, sehat selalu simbah :))
Rumah nan sederhana ini, sering dijadikan tempat persinggahan orang-orang yang kehabisan bekal pas mencari kayu bakar. Sering dijadikan tempat istirahat para petani lombok yang tak kuat kepanasan di tengah terik siang. Atau, pernah juga menjadi penunjuk jalan bagi pejalan yang tersesat di tengah hutan. Terkadang, Mbah Kijo tak segan menjamu tamunya dengan minum teh, makan, atau memetikkan kelapa muda yang tumbuh subur di sekitar rumah. Betapa benar, orang-orang berhati baik masih disisakan oleh Tuhan di dunia ini.

***
Kehidupan di seberang Bukit Mojo menjelang penghujung kemarau, pernah kusaksikan begitu berbekas. Mendalam. Di seberang selatan yang masih sunyi ini, aku pernah begitu dibuat nyaman sepanjang melangkahkan kaki. Sedangkan di sisi utara, banyak orang-orang riuh ramai berfoto dengan latar belakang tempat ini agar menjadikan feeds instagramnya semakin rapi. 

Setelah ini, akankah aku juga perlu mencari tahu ada kehidupan apa di seberang Bukit Panguk Kediwung?

Terima Kasih Sudah Berkunjung

20 comments

  1. Explore daerah mBantul terutama di daerah pegunungannya memang menyenangkan...
    Beruntung juga kemarau tahun ini tidak separah tahun 2015 yang benar-benar kering...

    Salam blogger Yogyakarta juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, ini saja kan sebenernya masih Bantul. Tapii kan aku lagi tau sekarang lho ada tempat seperti ini di Bantul. Semacam udah di Gunungkidul, padahal belum sampai sana.
      Semoga penghujan nanti Kali Oyanya ga banjir sampai rumahnya Mbah Kijo. Aamiin.

      Delete
    2. Iya, itu pun sebentar lagi udah perbatasan sama Panggang hlo..

      Tapi keren hlo blusukannya bisa sampe ke tempat yang tak bernama itu.. hehe
      Keren suasananya, coba kalo dikembangin lagi jadi semacam taman..

      Aamiin.. Semoga penyerapan air oleh pohon" jatinya bisa mencegah banjir..

      Delete
    3. Akses jalannya masih susah juga mas kalau dijadikan taman. Nanti ramai, nanti aku ga punya tempat pelarian lagi kalau pas pingin ke tempat sunyi syahdu wkwk

      Delete
    4. Tinggal dateng aja pas weekdays..
      Mengko rak sepi.. hehe

      Delete
  2. aku pernah main, berenang di sungai itu, dr jembatan kuning itu ke selatan trs sampai ada dua bukitengapit sungai yg indah bgt, ada perahu gethek yg buat mainan juga he he seru, airnya juga jernih warnanya hijau gt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa iya mas, tadi barusan juga aku baca postinganmu tentang itu. Kok curang ya ada geteknya :(
      Aku ga berani kalau nyopirin getek sendiri begitu, dan sepertinya sih Kalinya lagi dalam. Takut tenggelam

      Delete
  3. Wanimen to mbak dewean😨
    Aku suka kemarau, banyak ranting dan pohon yg meranggas. Suka aja liatnya. Lalu dibawahnya berserak dedaunan kering. Seakan mendamaika hati. Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pendekar mas, ahhaha
      Aku pun, apalagi jika ada ranting-ranting pohon dengan naungan langit biru :))
      Eh btw tulisanmu akhir-akhir ini lagi puitismen mas :D

      Delete
    2. Puitis piye sih -_-
      Aku ki raiso neg kon nulis puisi pdahal.

      Delete
    3. Yo mendayu-dayu ngono. Nulis tentang semangkuk Mi godog aja jadinya kaya tulisan penuh kenangan dengan seseorang ngono kok. ahahaa

      Delete
  4. Lah kok gak ono seng renang neng Oyo? Padahal banyune lagi bening banget kui.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bening tapi dalem yo... medeni :( apalagi kalau ada piranhanya :p

      Delete
  5. Mbak, ini blusukan yang sejati! Saya salut banget. Tidak semua orang mau dan mampu menarik makna dari tempat-tempat wisata. Sepertinya kata "terkenal" untuk sebuah objek wisata harus didefinisikan ulang. Ada kehidupan-kehidupan kecil yang bergerak di balik gemerisik daun-daun kering. Tidak semua orang mau mendengar itu. Bravo! Saya belajar banyak dari tulisan ini, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Gara, aku lebih terkesan jika dalam perjalanan bisa "memetik sesuatu" meskipun kecil.

      Dan entahlah, meskipun itu adalah sebuah perjalanan yang begitu singkat, tapi kok membekas sekali rasanya. Dibanding di tengah sesak orang-orang dengan sikap yang tidak saling peduli.

      Hehe makasih mas, sudah menyempatkan membaca, hehe iya... mari belajar terus :)

      Delete
    2. Blusukan sejati. Sengaja reply di komen mas gara karena setuju banget. Kok aku jadi berulangkali ya membaca paragraf tengah sampai terakhir. Iya, tentang orang baik dan pastinya penuh ikhlas. Simbah ituuu, pengen kutemui :(

      Delete
    3. Orang baik masih disisakan kok di dunia Rin :D meskipun mulai susah ditemukan wkwk
      Aku juga suka tiba-tiba kangen ke tempat itu, pingin jalaan sampai rumah mbah Kijo lagi ngobrol lagi... Nanti kalau ada kesempatan ayok deh.
      Tapi Kali Oyanya udah ga ijo kalau pas ga kemarau.

      Delete
  6. Dirimu kok kendel je mbak, dewean. Kalo aku mesti jiper ahahaha.
    betewe beberapa juta tahun yang lampau #halah kawasan Sungai Oya ini jadi tempat bermainku dan tujuan kalo pengen pacaran biar enggak ketahuan kawan2 di posko gempa (muahahahahaha, paraaaah). Nyebrang jembatan kuning yang goyang2, terus menyusuri jalan sempit, terus enggak tau sampai daerah mana deh. Pokoknya sungainya dan bukitnya bagus. Kalau pas kesini rame-rame suka ciblon juga di sungai. Duh masa muda dan lagi bandel-bandelnya.

    Kadang kangen juga pengen mengulang blusukan ke kawasan sini.

    ReplyDelete