Kalitalang, Sisi Sunyi Lekuk Merapi

Rabu, Mei 23, 2018



Merapi adalah magnit. Kala pagi, setiap ia gagah tebar pesona tanpa alang-alang awan, aku selalu menjadi pengagum rahasianya dari jauh. Apalagi ketika aku masih berumah di kutub selatan Yogyakarta, menyapanya dari dekat adalah sebuah angan-angan yang terus terpendam.

Jika jarak adalah suatu alasan, mungkin iya. Namun kenyataannya aku pun pernah mencoba menekuk-nekuk bentangan jarak, mendatanginya beberapa waktu pada subuh-subuh.

Membiarkan jarum spedometer motor menari-nari ke arah kanan dengan lampu jarak jauh yang membelah gelap. Menantang dingin berselimut jaket, terus mengarah ke kutub utara Yogyakarta dengan setumpuk pengharapan. Namun harapan itu selalu bertepuk sebelah hati. Merapi masih enggan untuk kutemui. Jendelanya bertutup kelambu putih, tebal, sampai kakinya pun rapat berselimut.

Dua kali bertandang subuh-subuh tetap begitu. Aku tak pernah menyaksikannya dengan jelas. Bahkan ketika dingin itu belum sepenuhnya sembuh, aku harus kembali berbalik membawa bekal penasaran pulang tanpa sambutan basa-basi darinya.



Kini, Tuhan telah mendekatkan jarakku pada Merapi. Hampir setengah jarak telah dipangkas lebih pendek olehNya. Aku semacam ingin balas dendam memadamkan penasaran yang tak kunjung berbalas itu.


Ternyata suami mengamini. Entahlah ikhlas atau dengan segenap rasa terpaksa, dia mengantarku selepas subuh menemui Merapi. Agenda yang selalu kucanangkan jauh-jauh hari, agar dia tak berdalih mengulur waktu pertemuanku dengannya.

***

Langit membara pukul lima, pertanda cerahnya pagi. Aku bersemangat duduk di jok motor belakang sambil mengucap puja-pujian kepada Tuhan. "Pagi ini, aku akan menyaksikan wajahnya secara dekat kembali". Aku yakin kali ini dia tak lagi sembunyi. Jalan lengang Kalasan-Cangkringan itu semacam merestui. Sedari tadi, kami tak banyak tertahan timbunan detik lampu merah.




Sesekali aku mengusap-usap telapak tanganku, kemudian menenggelamkannya dalam saku rapat-rapat. Semakin menanjak, angin pun terasa berdesir membawa hawa dingin. Akhirnya, sampailah kami di sebuah tempat parkir luas nan sepi di Kalitalang. Di sana, hanya terlihat mas-mas berkupluk yang tengah duduk-duduk. Sepertinya, dia tengah menanti seseorang.

"Mas, boleh lewat sini atau sana?" tanyaku sambil menunjuk arah barat dan timur kepada mas berjaket merah. "Lewat barat dan timur boleh mbak?" Jawabnya menjelaskan. Aku kemudian memberi isyarat kepada suami untuk menuju timur. Dulu, di sana aku pernah melihat sebuah tebing dengan sentuhan kabut yang dramatis. Pagi ini aku ingin menyaksikannya lagi.

Tebing berkabut yang ingin kulihat kembali. Pada kunjungan pertama, Merapi masih tak menampakkan diri.
Kami meniti jalan rerumputan. Heningnya kerja para pencari rumput duduk menunduk berada di sela rumput-rumput yang meninggi itu. Senyum mereka menyimpulkan sapaan adalah peredam dingin. Setara dengan tegukan teh yang masih mengepulkan hangat.


Merapi adalah sebuah terapi agar perasaan kembali rapi. Aku terhenti untuk memandanginya lebih dalam sambil menghirup oksigen pagi yang tak habis-habis. Pagi ini, akhirnya Merapi tak lagi bersembunyi. Bunyi garingpung adalah lagu pengiring, agar perjalananku tak sepi menuju gardu pandang penghabisan di ujung utara.



Kalitalang masih sepi. Ia hanya ramai oleh gesekan ranting acacia decurrens yang tumbuh subur setelah erupsi merapi 2010 lalu. Bahkan batang pohonnya setelah mati, disulap oleh warga menjadi bahan baku pembuat kayu arang. Dari pohon inilah cikal-bakal akan dihasilkan kayu arang dengan kualitas terbaik.


Di sini, tak ada bunga-bunga dan taman ala-ala buatan manusia. Pengelola hanya mengizinkan tumbuhan vegetasi asli saja yang menghuni. Lumut-lumut, rumput-rumput, juga pohon berdaun jarum di seberang tebing.


Tak lama aku mengagumi kegagahannya pagi ini melalui sebuah gardu pandang, rombongan sapaan menyeru dari belakang. Ada Tirta, Noveria dan adik laki-lakinya, Mbak Mardiya, serta Habib telah tiba. Tak ada janjian sebelumnya, namun nyatanya pagi itu kami mengenakan busana senada. Merah, pink menanda ceria. Ya, tentu kami ingin mengabadikan kekompakan ini dengan Merapi sebagai backgroundnya.





Nove dan Adiknya :)
Puas mengulang-ulang memencet tombol shutter, seseorang bergabung bersama kami. Ternyata dia adalah seseorang yang duduk di pinggir pelataran parkir Kalitalang tadi. Mas Rofiq namanya. Dia adalah salah satu pengelola Kalitalang sekaligus teman dari Habib. Ah, jadinya kami bebas retribusi masuk dan parkir. Yeayyy, terima kasih mas :)

Penasaran dengan hamparan hutan yang lebih tinggi di sisi barat, aku dan suami sempat menelusuri jalan sempit bekas jalur downhill. Tiba di atas, yang terlihat masih tentang hamparan rumput dan rimbunnya pohon acacia decurrens yang sedikit menghalangi penampakan Merapi yang masih gagah cerah.





Tak lama berjalan, muncul perasaan takut di tengah sini ketika tiba-tiba datang dua anjing menggonggong seperti memanggil temannya. Padahal sungguh, aku tak mengerti bahasa peranjingan. Mereka menatapku tajam dengan terus menggonggong. Aku merengek kepada suami untuk segera turun bergabung dengan Tirta dan rombongan di bawah. Eh, beliaunya malah masih penasaran sambil terus berjalan ke arah utara.


Aku berpamit tanpa kata untuk duluan bergegas turun dengan sedikit cemas. Ternyata suami mengikuti dari belakang. Sesampainya bawah di panggung-panggung gardu pandang, mereka masih memberikan perhatian penuh kepada Merapi. Dari sini terlihat kesibukan lalu-lalang warga yang akan berangkat mencari rumput meniti jalan menanjak. Sedangkan di ujung utara, Merapi masih setia tanpa awan.

Harmoni Merapi dan kesibukan warganya




Memang ada beberapa pilihan untuk menyapa Merapi. Dari jauh seperti: lewat penampakannya dari dalam kereta ketika melintasi Jogja, di ujung utara hamparan hijau sawah, atau dalam mimpi. Namun, jika pembaca ingin lebih dekat, bisa mencoba mengunjungi Kaliurang, Kaliadem, Bukit Klangon, atau ke Kalitalang.

Berikut adalah foto gagahnya Merapi via Kaliadem:


Kaliadem sudah semakin ramai. Jip-jip hilir  mudik, parkiran penuh, dan pengunjung antusias memenuhi sekitaran bunker ke utara. Rupanya, ada satu hal yang sudah semakin mahal, yaitu ketika bisa puas menatapnya dalam keheningan. 

Pernahkah pembaca tiba-tiba menjadi pecinta yang sedang posesif? ya, itu adalah aku pagi itu. Aku memilih untuk memandangi setiap lekukan indah Merapi dari Kalitalang, Balerante, Kemalang, Klaten. Dari sini, mulut Merapi tepat menganga.

Uhuu, pinjam potonya Mas Mawi ya. Tele-ku nggak nyampaii :(

Akhir-akhir ini, Merapi sedang sibuk. Sesekali batuk, bergemuruh, atau menebar hujan abu. Semoga tak lama, dan semuanya aman sentosa.

Terima kasih kepadanya yang telah membayar lunas akan pengharapanku menemuinya beberapa waktu lalu. Kalitalang, di tempat ini aku menemukan sudut sunyi untuk terus memandangi lekuk Merapi. Aku kumpulkan tatapku sebanyak-banyaknya, kumasukkan ke dalam karung besar, kemudian kutali rapat untuk bekal pada hari-hari yang akan datang. Ada tanya dalam hati, "kapan lagi aku dikasih kesempatan bisa menemuinya segagah itu dalam cerah?". 

***

Informasi untuk pembaca:
Ekowisata Kalitalang: Ekowisata, Konservasi, dan Mitigasi.
Alamat: Balerante, Kemalang, Klaten
Instagram: @kali_talang
Htm: Rp.8.000,00
Ada camping groundnya jugaa :)

Terima Kasih Sudah Berkunjung

48 comments

  1. Balasan
    1. wah...wah..pemandanganya benar benar takjub, pastinya meyenangkan ya ?
      Kalitalang, Merapi memang banyak menyimpan pemandangan yang hijau ranau bak serambi Syurga, saya dulu sering ke Merapi lho neng bahkan sampai ke puncaknya muntilan kan ?

      Hapus
    2. Terima kasih :)
      Waah, udah sampai puncak. Aku belum pernah min... hehe

      Hapus
  2. Merapi memang mempesona ...

    Semoga erupsi tak lagi berkelanjutan.
    Beberapa hari ini terus mengalami freatik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, selalu memesona membahana :)
      Aamiin, Mas Himawan Sant tu Magelang? kebagian hujan abu juga?

      Hapus
    2. Eh,betul,kak Dwi ..
      Kok tau aku di Magelang saat ini .. hehehe 😁

      Hujan abu di Magelang,kak.
      Tengah kotanya ngga seberapa terkena hujan abu vulkanik.
      Kalo di kabupatennya iya, lumayan tebal pula.

      Gimana di Yogyakarta,kak ?.
      Betewe, kak Dwi dan suami ke Kali Talang ini setelah ada erupsi kemarin itu, ya ?.
      Kereen .. berani kesana 😁

      Hapus
    3. Soalnya dilihat dari postingan-postinganmu sih mengarahnya ke Magelang mas :p
      Iya, hari ini erupsi lagi, mengarahnya ke arah barat. Jogja sementara ini masih aman dan belum kebagian hujan abu.
      Oh ini sebenernya tulisan udah beberapa waktu di draft mas, jadi ke sananya pas statusnya masih normal :)

      Hapus
    4. 😁 hehehe .. Nuwun kak Dwi merhatiin postingan-postinganku, jadi tau aku ada di Magelang.

      Erupsi terus berlanjut sampai hari ini,kak.
      Tercatat udah 9 kali freatik.
      BMKG memberi kesimpulan timbulnya freatik ini berbeda dg letusan th 2010 lalu yg tanpa adanya freatik lbh dulu.
      Pola skr disebut spt letusan jaman purba dulu.
      Waduh,serem juga bacanya ...
      Selalu waspada kita semua.

      Btw,
      Foto2 kalian di artikel ini keren2.
      Background Merapi kliatan gagah menjulang.

      Hapus
  3. Sejak dulu punya impian berfoto dengan view Merapi kayak begitu, tapi nggak kesampaian...
    Sekarang udah nggak di Jogja.. hadehh..

    Ini berarti Kali Talang tutup ya mbak karena Merapi statusnya naik..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempatkan mas, besok pas statusnya udah normal. Ke sana pagi-pagi gituu...*tersejuk pokoknya :)

      Sepertinya sih ditutup.
      Beberapa obyek wisata seperti: Tlogo muncar dan Tlogo Nirmolo (Kaliurang-Pakem),
      Panguk dan Plunyon (Kalikuning-Cangkringan), Deles (Kemalang, Klaten),
      Jurangjero (Srumbung, Magelang)
      dan jalur pendakian Merapi baik dari Sapuangin maupun Selo per tanggal 22 Mei 2018 sementara ditutup *Info BTNGM*

      Hapus
    2. Kalau ada temennya mah enak.. Tapi kalo sendirian, hadehh.. cukup menyeramkan..
      Apalagi kalo dateng pagi-pagi pas belum terang.. Menembus dinginnya jalanan yang sepi sendirian..

      Yah.. Padahal rencana ke Merapi via Sapuangin via Ramadhan..
      Sepertinya Pendakian Merapi tdk akan leluasa seperti dulu lagi dengan karakteristik Merapi yang jauh berbeda semenjak erupsi 2010 silam..

      Hapus
    3. Jadi prnya adalahhh: cari teman duluu :p
      Teman hidup, lebih baik *eh

      Hehehe mungkin bisa ditunda dulu mas, sampai status kembali normal. Kalau Ramadan mendaki adakah? Aku nggak ngebayangin capek dan hausnya :o

      Setelah erupsi 2010 emang karakternya jadi jauh berbeda gimana mas?

      Hapus
    4. Masih menunggu mbak buat disahkan.. hehe

      Ramadhan nggak ndaki.. Eman-eman kalo Ramadhan dipake buat ndaki...

      Hapus
    5. Kutunggu kabar baiknya mas, semoga lancar selalu :)
      Iya, mending fokus ibadah. hehehe. Bersyukur masih diberi kesempatan dipertemukan dengan Ramadan :)

      Hapus
  4. Gagahnya merapi ini bahkan bisa dilihat dari Becici. Untuk ke sana memang paling gampang lewat kalasan ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gagah dari segala penjuru Jogja, Magelang, dan sekitarnua. Dari Puncak Suroloyo pun terlihat...

      Tergantung tujuannya sih mas.. Tapi kalau arahnya sisi timur, kaya Klangon, Kali Talang, lewat Kalasan lebih cepet sih menurutku 😉

      Hapus
  5. Dari sudut manapun Merapi itu selalu mempesona ya.
    Aku pun tiap pagi pasti keluar rumah dan mencari-cari sosok Merapi. Saat cuaca cerah bisa kelihatan gagah banget. Tapi akhir-akhir ini lagi sembunyi terus doski.

    Pengen deh bisa dapat foto sedekat itu dengan Merapi. Pas nginep di Kalikuning dulu paginya Merapi ngumpet. Untungnya sekitar jam 12 malam dia kelihatan siluetnya. Diterangi cahaya purnama kelihatan gagah plus misterius. Ada 15 menit mungkin ku berdiri di luar tenda sambil terpekur takjub.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaa? baru tau aku mbak kalau malam hari juga bisa kelihatan. huhuhu nggak mbayangin aku juga pasti terpesona kalau liat langsung :)
      *mbayangin jam 12 malam Merapi nampak tersinari bulan purnama dan suara srigala melonglong*

      Kapan-kapan diagendakan mbak, apa lagi rumahnya mbak Sha jakal km sekian, huhu mendukung banget buat sering-sering ngapelin diaa

      Hapus
  6. ya ampun bener-bener indah bangeett keerrreeennnn

    BalasHapus
  7. ya ampun terpesona dengan merapi smeoga cepat kembali kondusif untuk dikunjungi

    BalasHapus
  8. Saiki wes mbolang adoh maneh ahahhaha.
    Njuk iso motret apik-apik buahahhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iki isih nang Jogja mass :( rungiso menyambangi karjaw huhu
      Aamiin
      Iyaa, tentang motret, aku diospek terus e wkwk

      Hapus
  9. Subhanallah mbak. Ini merapi keren banget dilihat dari sini. Status merapi belakangan ini memang bikin sedih. Nanti kalo udah normal semoga ada kesempatan buat kemari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga ketagihan ke sini lagi mba.. Bener2 sunyi dan damai. Iya, kapan2 kalau statusnya udah normal, gih ke sini ajak-ajak :))

      Hapus
  10. Nikmatnya pergi ke tempat wisata yang belum terlalu terekspose sama media, "puas berlama-lama mengagumi keindahan lekuk Merapi--tanpa harus bersusah payah riweuh dengan orang-orang pemburu selfie di spot-spot foto masa kini"

    *aseeeek, saya bisa buat tulisan berima juga xD

    Terngakak, pas baca tulisan nggak bisa bahasa peranjingan. Lhakok tiap jalan-jalan mesti ketemune sama hewan ini e, mbak> Kemaren di Pantai Kesirat juga. Hahaha. Foto terakhir, BAGUS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeayy, terapkan coba di postingan berikutnya. Tulisan berima *kemudian nulisnya mikir lama duluuu, ga selesai-selesai* wkwk

      Iya, entah dia kok methukke aku setiap pergi-pergi ke mana-mana. Padahal aku takut sama itu, trauma masa kecil pernah dikejar sampai sendalku digigit dari belakang. Nangis tak henti-henti. huhuhu

      Hiks, sayangnya foto terakhir malah jepretannya dia :(

      Hapus
    2. Pernah nyoba bikin tulisan macam begituan mbak, setelah terpesona sama tulisanmu, Mas Rifqi 'Papan Pelangi', sama Mas Jo 'Ruang Sore', berasa syahdu-syahdu enak dibaca gitu. Tapi ya karena belum terbiasa, jadi lama banget prosesnya. Dan pas tak baca lagi sekarang, berasa aneh. Wahaha...

      Hapus
    3. Hehehehe emang enaknya aja mas, yang paling sreg cara apa :p
      menurutku sih "tetep" jika nulisnya dari hati, maka pesan akan sampai ke pembacanya :)
      Misal, ada tulisan endorsan atau ngiklan itu pun jika ditulis dengan niat dan nggak asal-asalan, tetep yang baca ya enak-enak aja :D

      Hapus
  11. Iiiih kok apik! Wwkwkwkwk aku ngakak bagian (((garingpung))) hahaha

    BalasHapus
  12. Bisa melihat merapi lewat dekat bener-bener josss deh yaaa. Serem juga merapi nya nganga lebar begitu, seakan mau rubuh :(

    willynana.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, itu rekahan kawahnya menganga ke selatan.
      Alhamdulillah dikasih kesempatan ke sana pas cerah yaaa :)

      Hapus
  13. Balasan
    1. Eh cieee... itu fotonya cuma sama adeknya lho :p

      Hapus
  14. Cobain mendaki merapai kak, seru dan bisa bikin candu loh. emank viewnya nanti gak seperti yang di blog ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah mendaki kak :p
      Baru membayangkan duluuu :D

      Hapus
  15. Terima kasih mas, silakan ke Jogja menilik Merapi. Jika cuaca cerah, pasti menjumpanya gagah di ujung utara :)

    BalasHapus
  16. Baru tau gua Merapi merupakan sebuah terapi ckck, mau gua terusin komentar gua, takutnya bakalan aneh aja ckck, makanya gua sudahin aja hehe

    BalasHapus
  17. Jadi setuju dengan pernyataan "ada satu hal yang sudah semakin mahal, yaitu ketika bisa puas menatapnya dalam keheningan", beberapa gunung (khususnya di pulau jawa) sudah terlalu ramai. Tak mudah mendapatkan keheningan di sana. Kalau mau hening yaa cari gunung yang susah dijangkau.

    View merapinya sangat indah, aku jga bakal mager kalo disuguhi pemandangan seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas, aku bisanya memandangi dari bawah. Huhu, belum bisa mendaki sepertimu lho :))
      Aku orangnya suka tempat yang nggak terlalu ramai dan berisik mas, selalu suka jika suatu tempat memberi aura kedamaian :p

      Hapus
  18. Pemandangannya benar benar sangat indah sekali..

    BalasHapus
  19. Pengalaman misteriku di kalitalang jgn pernah yerjadi lgi.

    BalasHapus