Merengkuh Nostalgia Angkatan Tahun 90-an di Mbok Jajan

Monday, December 03, 2018



Apa sih parameter yang digunakan untuk mengukur kadar kurang atau cukupnya kebahagiaan pada masa kecil?

Wuuu “masa kecil kurang bahagia”.
Sini tak bahagiain.

Anak-anak yang lahir sekitar tahun-90’an seringkali mengaku kalau pada zaman itu lah anak kecil mendapatkan “dunia anak-anak” yang sepenuhnya. Entah apa ini hanya berlaku di desa, atau di kota juga.

Lha pada zaman itu, kala saya masih kanak-kanak dan hidup di desa, dunia bermain sungguh sangat luasnya. Apa pun bisa digunakan sebagai bahan permainan.


Saya ingat betul ketika begitu bersemangat mengiris-iris segala dedaunan untuk dijadikan bakmi-bakmian, jantung bunga pisang untuk dijadikan hati *eh, tanah dicampur air buat bubur-buburan, dan jualan es-es an menggunakan pewarna daun jati, kulit manggis, ah segala macam.

Jangan lupa untuk membuat uang-uangan dari daun bisa, kertas bisa, sesuai kesepakatan saja. Oh ya, warungnya nantinya dibuatkan rumah dari gedebog pisang sebagai kerangka, kemudian atasnya dikasih atap karung beras, bisa juga daun pisang. Membangun rumah-rumahannya dengan gotong-royong dibantu teman dong. Betapa nilai-nilai interaksi, sosialisasi, kerja sama, dan kreativitas sudah terkandung dalam permainan itu.


Biasanya kalau sudah asyik bermain pasar-pasaran dan rumah-rumahan, waktu berjalan begitu cepatnya. Tak terasa sudah sore saja, kemudian biasanya dicari oleh ibu, diingatkan untuk cepat-cepat mandi terus berangkat TPA di masjid.

Itu baru cerita tentang main pasar-pasaran dan rumah-rumahan. Belum lagi jika menghitung jumlah permainan yang bisa dimainkan kala itu, wah banyak. Ada jamuran, ular naga, kasti, lompat tali, gobak sodor, petak umpet, dakon, bekelan, juga jlog-jlig (tanah digaris kotak-kotak kemudian dimainkan dengan ingkling dan melempar pecahan genting).

Saya pernah memiliki kenangan tak terlupakan ketika bermain petak umpet. Entah karena konspirasi atau apa, saya yang saat itu termasuk dalam golongan usia paling muda dalam kelompok itu sering dibuat terus menerus “jaga”. Rasa-rasanya kok tidak pernah kebagian ikutan ngumpetin perasaan. Kan pingin ya?



Lamaaa sekali “jaga”, terus akhirnya nangis. Karena saat itu belum ada yang nge-”cuppp cup cupp”. Biasanya terus pulang ke rumah terus tidur karena kesel.

Tradisinya sih memang yang senior-senior itu suka sekali ngerjain yang lebih kecil. Semacam dijadikan hiburan untuk ketawa-ketiwi, puas ngerjain kalau sampai nangis.

Makanya, paling enak main sama teman sebaya. Pernah bareng-bareng mencari ciplukan di sawah, mencari buah duwet di pinggir sungai, menjadi jamaah penunggu buah mangganya tetangga jatuh, main gobak sodor di malam bulan purnama, atau cublak-cublak suweng.

Yaaah, saya pernah mengalaminya. Masa itu, ketika setiap hari adalah waktu untuk bermain, dan belajar adalah selingan ketika bosan bermain. Ahahaha.



Segala hal tentang permainan masa kecil saya, tentu hampir sudah tidak mungkin saya ulang. Jika ingin mengulang, sepertinya sudah cukup susah mencari partner bermain yang juga paham tentang cara mainnya. Pun rasanya, pasti tak bisa selepas dulu. Tidak lagi sama “tanpa beban”, sebuah perasaan yang hanya dipunya oleh anak-anak. 

Soal jajanan, hmm es gosrok ditangkup dua tutup gelas kemudian dikasih sirup warna-warni itu pernah menjadi kesukaan saya. Meskipun, kalau diisep-isep lama-lama warna sirupnya ilang, tinggal putih tak terasa. Eh es itu sih masih bisa saya jumpai di Pasar Kangen Jogja setiap setahun sekali, tapi antreannya nggak nguatin. Mending saya melipir saja.

Selain itu, biarlah gambar di bawah ini yang berbicara:







Saya teringat, dulu kalau diminta Ibu beliin terasi, tempe, shampo, atau apa lah di warung, kadang kembaliannya saya belikan jajanan satu atau dua buah. Alasannya: buat ganti capek.

Tiba-tiba, bayang-bayang tentang jajanan masa itu kembali berwujud di depan mata. Saya kira nostalgia 20 tahunan silam itu hanyalah berupa rekaman kenangan yang tersimpan rapi, nyatanya bisa kembali nyata beberapa.


Siang itu, 24 November 2018 saya sengaja mengajak suami untuk mengikuti peta alamat @mbokjajan. 

Memang tak terlalu jauh dari rumah, tepatnya di Jalan Ireda no. 181A. Kalau dari arah utara: Jogjatronik ke selatan lurus mentog sampai Pojok Beteng wetan, setelah itu belok ke kiri. Lurus saja sampai menemukan Apotek Panji, belok kiri masuk gapura merah. Lokasi @mbokjajan berada di kanan jalan.


Setelah sepeda motor terparkir di depan, sepintas mata memandang tempat ini sepi pengunjung mau pun pembeli. Saya disusul oleh suami, mencoba masuk ke dalam. Pemandangan pertama ketika saya masuk membuat mata cukup berbinar ya?

Segala sesuatu yang mengiringi tumbuh saya pada zaman itu, seakan hidup lagi. Saya kembali tersadar dari rasa takjub, kemudian menyapa mbak-mbak yang menjaga kasir.

“Mbak, ada krip-krip?”
“Oh ada mbak, mau berapa renceng?”
“Ah sebentar mbak, saya boleh mengambil foto dan lihat-lihat dulu?”
“Boleh, silakan…”



Saya bersemangat, tawaf mengitari tempat yang sesungguhnya tidak begitu luas itu. Namun, barang-barang yang ditata sangat rapi.

Menjelajahinya, membuat senyum kembali terkembang. Segala macam mainan saya kala itu: bekel, balon yang ditiup-tiup dengan sedotan kecil, parasut, kitiran, kaset, berbagai macam.


Dalam deretan snack, ada beberapa jenis yang memang sudah lama tidak saya lihat. Padahal dulu, rentengan snack warna-warni itu begitu meriah digantung di warungnya tetangga.

Melihat Permen Yosan, mengingatkan kegigihan saya mengoleksi huruf-huruf yang tertera di dalam bungkus permen karet itu.


Cita-cita mulia untuk mengumpulkan tulisan Y-O-S-A-N, berharap mendapatkan hadiah sepeda sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Huruf N-nya tidak juga ketemu sampai saya dewasa. Misteri yang entah belum terpecahkan sampai saat ini.

Beberapa snack, jajanan masa kecil yang masih bisa ditemukan beberapa. Seperti: Hot-Hot Pop, Davos, Choki-choki, Nyam-nyam, Gulai Ayam. Beberapa di antaranya sudah menghilang tanpa kabar kaya dia.

Di @mbokjajan ini saya bisa kembali mengicip krip-krip, sukiyaki, es gabus, es lilin kacang ijo yang sekian lama tak saya temui lagi. Sayangnya, saya tidak menemukan anak mas dan anak mami. Dua buah snack kesukaan yang memang sudah tak diproduksi lagi.


Mampir sebentar di @mbokjajan siang itu mampu membuat saya tersenyum sambil memutar waktu ke belakang. Eh kenangan maksudnya. Kenangan saya di masa kanak-kanak beberapa puluh tahun yang telah lalu.

Di dalam ruang sederhananya, saya semacam diajak masuk dalam lorong waktunya Doraemon. Melihat, merasa, memegang, kenangan masa itu yang kembali di depan mata.


Sekarang kalau kangen, tidak perlu menunggu sesaknya Pasar Kangen yang datang setiap setahun sekali. Sekarang kalau kangen, tinggal mampir ke sana kalau kebetulan lewat.

Jujur saja, saya memang termasuk yang antusias jika bercerita tentang nostalgia. Kala waktu jajan di tempat penjual batagor langganan ketika SMA, Soto Rembang di Karangmalang UNY, atau sekadar memandangi setiap tempat yang menyimpan banyak cerita itu.

Seusainya keluar dari @mbokjajan, sepertinya sisa nostalgia itu masih erat kubawa pulang. Sambil menikmati setiap cemilan yang telah dibungkus, saya kembali bersyukur memiliki kenangan indah masa kecil yang tidak kurang-kurang. Masa kecilku takhanya sebatas layar sempit gawai yang membuat pegal mata. 

***

Kalau pembaca termasuk angkatan berapa? jangan-jangan sudah taklagi mengenali potret jajanan dan mainan di atas. 

Sementara "reuni" lagi musim, mari kita bernostalgia saja! Bagaimana dengan cerita masa kanak-kanakmu yang sekian puluh tahun telah berlalu itu?


Informasi untuk pembaca:
(Ini bukan tulisan sponsor) hehe, tulisan suka-suka saja. Mohon maaf beberapa foto terpaksa blurr tetap dipajang, mengingat pencahayaan tempat kurang dan yang moto adalah amatiran.

Instagram: @mbokjajan (surganya jajanan dan mainan zaman baheulak).
Alamat: Jalan Ireda no. 181A, Yogyakarta, 55152
Buka: Setiap hari, pukul: 09.00-21.00

Terima Kasih Sudah Berkunjung

24 comments

  1. Terbaik Mbak Dwi!
    Aduh aku jadi inget dulu gimana bisa jadi jagoan main kelereng. Pernah suatu masa aku nggak terkalahkan, tapi karena nggak taruhan ya main iseng iseng aja.

    Paling kurang ajar, aku pernah ngerjain sepupuku sendiri. Sepupuku yang lebih muda emang nakal banget. Akhirnya sama sodaraku yg sebaya ngerjain. Pas lagi main petak umpet, aku sama sodaraku ini nggak sembunyi. cuma ndodok sambil ngumpetin muka beberapa meter dari tempat dia jaga. Sebelahan gitu. Tapi kami copot baju, tukeran baju. Pas dibilang "kena", kami nantangin, aku yang mana, si sodaraku yang mana. Pokoknya segala jawaban sepupuku ini salah terus. Sampe akhirnya ngambek dan pulang dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaa aku masih inget banget dulu siapa aja nama temen yang jago kasti, yang jago lompat tali, yang jago main gobak sodor, bekelan. Terus kalau pas mau main sekelompok sama "yang jago" itu, rasanya seneng. Soalnya kemungkinan besar menangnya :p

      Haha dasar ya pada jail syekalii kalau sama anak yang lebih kecil.
      Iya tuu.. aku sering banget dikerjain pas main petak umpet. Sampai nangis yo berkali-kali. Kzl banget. Haha.
      Mungkin itu efeknya makin ke sini anaknya makin susah ngumpetin perasaan. *nggak ada hubungannyaaaa

      Delete
  2. wow nostalgia sekali. beberapa jajanan dan mainan di sini aku gak kenal waktu kecil, mungkin tren nya gak sampe pulau sebrang.Tapi sebagiannya lagi betul2 bikin kembali ke masa kecil. Apalagi ditambah baca narasi cerita masa kecilmu
    *lalu muter lagunya Payung Teduh yg Masa Kecilku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Aqied kecilnya di Papuakah? aaa jadi pingin tau di sana dulu mainan sama jajanan di warung apa aja.
      Ada beberapa teman seangkatanku aja juga nggak pada tau "krip-krip" kok. Padahal ya se-Pundong lho. Mungkin dulu pas kecil memang jarang jajan snack itu.

      Delete
  3. Sepertinya kita seangkatan mbak! Ceritamu membuat ku bernostalgia tentang kenangan jaman kecil. Tentang permainan-permainan dan jajanan-jajanan itu semua masih membekas di ingatan wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaa ketauan ya udah angkatan tuwak. Haha. Memang ajaib, kenangan zaman kecil itu kenapa selalu membekas, tapi barang-barang dan wujudnya sudah semakin langka untuk ditemui dan ditemukan.

      Delete
  4. Saya sudaaaaa tau mbokjajan ini lumayan lama, tapi belom mampir wkwkw.

    Mengenang masa kecil tidak lengkap tanpa film kartun, soalnya waktu kecil jarang jajan :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, mbak e bilang kalau Mbok Jajan ini sudah ada sekitar lima tahun yang lalu. Tapi aku kurang update sekalii heuheu.

      Kartun favoritmu apa mas? Aku juga suka nonton kartun kalau pas Minggu. ahaha.

      Delete
  5. Bacanya sambil senyum2. Wkwkwkwk sama mba, aku dl jg tukang jaga kalo maen. Bocahe kalahan pokoke, dipukili ambek kanca sing luwih gede trs. Ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu tu jadi ngaruh nggak sih gedenya jadi nggak tegaan. Mungkin karena nggak mau diperlakukan kaya dulu wkwk.

      Aku lho mas inget banget masa dibikin nangis-nangis gitu haha

      Delete
  6. Kubaca komentar dari atas, heeeeemmm aku jadi tahu umur-umur kalian ya. Aku dulu pas maih kecil mainanku nggak seperti itu *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mainanmu pas udah gede malah medeni mas. Mainin perasaan wani*a ahaha.

      Delete
  7. Katanya suka bercocok tanam, tapi kok masa kecilnya ga ada menata taman mini dg berbagai suket-suketan 😌😌

    Itu saya ding wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weeee pernah yo mainan kaya gitu. Mung kelewat nggak kutulis. Jadi dulu juga suka nyari lumut-lumut di pinggir rumahnya tetangga, terus aku bikin rumah-rumahan di tanah, ditanam deh segala macam itu, pakai ditebari bunga-bungaan juga ahaha

      Delete
  8. Saya juga generasi 90an. Tapi sembilan puluh berapa itu, biar saya dan Tuhan saja yang tau *halah*

    Jlog-jlig kalau ditempatku namane sudamanda sepertinya. Itu kalau udah selesai loncat-loncat, terus lempar-lempar batu kan ya? Kalau yang masuk kotak, bakal dapet 'sawah' bukan mbak?

    Kalau harga jajanan sama barang-barang jadul yabg dijual disana gimana mbak? Masih terbilang murah apa mahal? Secara kan, nyari dipasaran juga susah. Hehehe...

    Itu jalan arah Solo mbak? Tauku cuma dari Jogja Tronik sampe perempatan benteng tok. Apotik Panji dan selanjutnya, nggak punya bayangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau masih sembilanpuluh berapaaa gitu, berarti masih tuaan aku. Tenang sajaa :P

      Iya bener cara mainnya memang kaya gitu. Aku baru tahu namanya sudamanda... kira-kira anak-anak zaman sekarang masih paham nggak ya mainan kaya begitu? secara dulu kan masih banyak tanah, gambarnya di tanah. Kalau sekarang sudah banyak yang diaspal, disemen, ya bisa sih digambar pakai kapur... tapi kayanya memang beda sensasinya. Ahaha.

      Mmmm harganyaa nganu :P
      Aku beli krip-krip kan harus serenceng, ga boleh ngecer. Harganya 17ribu isi 10. Ahaha ya begitulahhh.

      Yaa Pojok Beteng Wetan tinggal ke timur pelan-pelan mas. Kayanya juga sudah ada di google maps sih.

      Delete
  9. Wah penasaran! Pengin ke sini. Setiap ke Jogja jane pengin sowan ke ndalemnya Mbak Dwi-Mas Mawi hehehehe.

    "Apa sih parameter yang digunakan untuk mengukur kadar kurang atau cukupnya kebahagiaan pada masa kecil?" Saya akan menjawab, "Parameternya adalah polah kekanakan yang masih bisa kita lakukan di usia sekarang"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa boleh mas, siniii...
      pada belum main ke rumah sampai sekarang. Ahaha. Ni pas Mas Gallant sama Rini di sini juga.

      Iya.. pola pikir ya? jadi yang sudah dewasa malah jadi kekanak-kanakan ki menandakan kalau masa kecilnya dia kurang buahagiak.

      Delete
  10. Lama tak komen.. hehe

    Yowalah.. Aku tau kebanyakan itu semua.. Terutama jajanan-jajanane iku.. haha
    Boleh ni kalo pas ke Jogja mampir..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fix kita seangkatan mas.. ahaha
      Kalau mampir, siapkan uang saku yang banyak :p soalnya lumayan jugaak harganya

      Delete
  11. Ya ampun, saya baru tau di Jogja ada @mbokjajan itu. Besok lagi kalau ke Jogja harus mampir ke situ.

    Inget banget sama mainan orang orangan dari kertas, yang dressnya nekeg gulu itu. Trus dikasih nama tokoh di Sailormoon. Kardus sepatu dipakai buat rumah tingkat 2, tangganya pakai kardus pasta gigi, kasurnya pakai bungkus rokok. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan nanti kalau lewat bisa nonton-nonton mbak :p

      Kok persis mbak... Aku juga dulu tempat tidurnya pakai bungkus rokok :')
      Anak-anak sekarang masih pada antusias mainan kaya gitu nggak ya? huhu

      Delete
  12. hadeuuhh itu familiar banget semuanya, senangnya dulu masih bisa merasakan semuanya. dulu sih senang pas selesai ngaji, anak2 itu maen petak umpet tengah malam dan yang bikin unik tuh ngumpetnya nggak tanggung2, ada yang dekat kuburan, di atas pohon, genteng tetangga, hingga di atap masjid hahaha seringnya sih kasihan yang jga karena jarang bisa menemukan semuanya. sialnya ya yang kebagian jaga, kurang asyik gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata banyak yang seangkatan :') aku legaaa ahahaha
      Betuul, dulu emang sepulang ngaji malam-malam itu kadang ada acara petak umpet, gobak sodor, juga mancing cicak di dinding-dinding pakai lidi dan laron. Ahahaha.

      Wuih greget sekali di kuburan juga :p
      Entah sih dulu tu kaya bermain tanpa ada beban macem-macem kaya sekarang mungkin anak pada main dikit dibuat stories, status, dan lain-lain :D

      Delete